Kemana Prestasi itu Pergi?
Sebagai “mantan” penghuni Jatinangor, yang nota bene berada di pinggiran kota Bandung, dan sebagai penggemar sepakbola, saya memiliki kecintaan khusus terhadap Persib Bandung. Klub ini sarat prestasi di masa lalu, dan tercatat pula dalam sejarah sebagai klub pertama yang menjuarai kompetisi sepakbola profesional Indonesia (Ligina) di tahun 1995. Namun trofi juara itu juga yang menjadi penanda berakhirnya sebuah era dan generasi emas Persib di masa modern, dengan Robby Darwis dan Indra Thohir sebagai pentolan2nya.
Berlalu hampir 18 tahun sejak masa itu, Persib terjebak dalam mediokritas—menjadi klub rata2 air. Apa sesungguhnya yang terjadi? Mengapa sebuah klub dengan dukungan massa yang begitu besar (dianggap sebagai klub eks-perserikatan, bahkan secara umum, dengan tingkat dukungan terbesar se Indonesia) dan dengan prestasi masa lalu yang tak kalah besar, dapat tertatih2 dalam stagnansi prestasi?
Secara sederhana, alasan utamanya dapat kita lihat pada tulisan Simon Kuper dan Stefan Szymanski dalam bukunya, Soccernomics. Dalam bukunya, mereka menggunakan data2 ekonomi, statistik dan sosial di Eropa dan Amerika Latin untuk menjelaskan kejadian2 yang ada dalam dunia sepakbola. Metode dan teori yang sama dapat diaplikasiakan kepada Persib, dan persepakbolaan nasional secara umum. Untuk mempersingkat waktu, semua bahasan yang ada diparagraf2 berikut memiliki landasan teori yang sama, yang terdapat pada buku dimaksud.
Bandung dan Liverpool, Sepupu Jauh yang Bernasib Sama
Kembali ke bahasan. Pada dasarnya, Bandung adalah tipikal kota2 penghasil klub sepakbola besar. Dalam Soccernomics dijelaskan bahwa klub2 besar hampir selalu datang dari kota2 non ibukota, dengan geliat industri, dan membanjirnya pendatang, persis seperti Manchester, Milan, Turin, Barcelona, Muenchen, Dortmund, Sao Paulo, Porto dan Liverpool. (untuk alasan dan data lengkap, mohon baca Soccernomics, bab Agen Koran dari Pinggiran Kota). Kota2 tipikal seperti ini, tidak memiliki kebanggan lain, selayaknya Ibu kota Jakarta—London—Berlin—Paris yang bisa bangga dengan status formalnya, atau kota2 pelajar seperti Yogya—Oxford—Cambridge yang bangga dengan intelektualitasnya, atau kota2 budaya semacam Solo dan Semarang—Jepara—Tuban. Satu2nya cara tercepat dan termudah untuk menciptakan identitas yang dapat dibanggakan adalah melalui olahraga, yang secara massal, berarti sepakbola. Ini juga berlaku di Medan, Surabaya, Makassar selayaknya berlaku di Inggris, Spanyol, Italia, dan lain kota. Kasus khusus, Jayapura, dapat diasosiasikan dengan kota Barcelona dan Bilbao di Spanyol, dimana sepakbola juga menjadi lambang terbesar (dan terdamai—tanpa pertumpahan darah) atas perlawanan terhadap kekuasaan otoritarian dari pusat.
Namun yang membuat Persib secara “alamiah” mengalami stagnansi juga disebabkan oleh alasan yang sama. Bandung sekarang telah mulai kehilangan identitas kota industri nya (nampaknya telah terjadi pergeseran arah ekonomi, dimana pabrik2 tekstil yang dahulu bertebaran disekitaran kota Bandung, banyak yang telah ditutup, dan digantikan dengan industri pariwisata dan pendukungnya—perhotelan, rumah makan—pusat2 perbelanjaan). Ketika ini terjadi, Bandung tidak lagi terasosiasikan sebagai kota para buruh, penduduk Bandung dapat membanggakan hal2 lain selain sepakbola, bahkan dapat meningkatkan status sosial mereka, dengan meninggalkan sepakbola dan beralih pada pariwisata dan bisnis kesenangan. Inilah salah satu penyebab utama, mengapa Persib menjadi tertatih2: para penduduk telah kehilangan antusiasme, asosiasi identitas dan kebutuhan sosial akan pengakuan dari sepakbola. Kasus seperti ini juga terjadi di mana2. Ketika Liverpool mulai kehilangan kapal2 di pelabuhan, dan asosiasi identitas sosialnya bergeser dari “kota pelabuhan” menjadi “tanah kelahiran The Beatles” (well,memang begitu adanya , dan pemerintah kota Liverpool sendiri berusah keras mengeksploitasi kenyataan ini demi menggenjot pemasukan dari sektor pariwisata), maka2 klub2 yang berada disana—Liverpool FC dan Everton FC, sama2 tersandung dalam mediokritas, beberapa prestasi yang diukir Liverpool FC (termasuk Juara Liga Champions Eropa 2007) sangat dapat dijelaskan secara statistik sebagai sebuah “efek residual” dan efek temporer dari intervensi terhadap keadaan yang ada (efek ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam relevansinya terhadap Persib), sebab dalam jangka panjang pasca era 80-an, praktis kedua klub dari kota Liverpool ini tidam menorehkan prestasi signifikan dalam kuantitas yang signifikan pula, alih2 dominan.
Kasus terburuk dari gejala pergeseran identitas sosial perkotaan ini dapat dilihat pada Nottingham Forest. Dimata generasi postmodern, nama Forest hampir tidak ada artinya, padahal dimasa lalu, klub ini adalah peraih Piala Champions dua kali berturut2 dibawah kepemimpinan manajer legendaris Brian Clough. Forest tumbuh besar, seiring geliat industri di kawasan Nottingham pada era 60-an, hingga surutnya pada era 80-an, ketika banyak industri tutup dan gulung tikar. Parahnya, tidak ada pergeseran kebijakan ekonomi sama sekali (berbeda dengan Liverpool, Newcastle, dan Bandung), yang pada akhirnya berakibat menyusutnya jumlah penduduk karena ditinggalkan untuk mencari kesempatan di kota2 lain di Inggris. Nottingham kembali ke asal usulnyak, sebuah kota kecil beraroma pedesaan, dengan kebutuhan dan kebanggan yang seperlunya. Imbasnya sangat terasa, Forest tidak pernah lagi menapak Liga Utama Inggris, terus mengerdil dan berkutat di League One (setara divisi 2 di LSI). Sungguh sebuah ironi bagi klub Inggris pertama dan satu2nya yang berhasil menjuarai Piala Champions secara berurutan.
Hal2 semacam ini tidak terjadi di Manchester, dimana Industri memang tetap menjadi bagian dominan dan identitas kawasan, begitu pula Barcelona, dimana perkembangan budaya, tetap tidak bisa mengalahkan identitas lama sebagai Kota Industri dan perdangangan.
Tak Mungkin Bangkrut
Persib, sebagai sebuah entitas organisasional merupakan makhluk yang unik dalam keberadaannya, begitu juga dengan yang disebut dengan “bisnis sepakbola”. Dalam Soccernomics, dijelaskan bahwa sepakbola adalah sebuah entitas komersil yang unik, karena nampaknya kebal terhadap resiko2 terburuk yang menimpa bisnis2 lainnya.
Ketika banyak bisnis lain merugi dan merugi, mereka akan bangkrut dan gulung tikar, klub sepakbola? Tidak. Mereka tinggal turun divisi dan terus turun divisi, sampai serendah2nya, namun tidak akan pernah gulung tikar. Ketika benar2 gulung tikar pun, mereka akan dengan mudah membuat klub baru, dengan nama yang sama, dan kembali bermain di pasar yang sama. Klub sepakbola adalah sebuah merk yang memiliki loyalitas paling tinggi dimata pasarnya (jelasnya, dapat dibaca pada buku Soccernomics, bab Bisnis Terburuk Didunia). Apa artinya semua ini? Semua ini adalah kemewahan yang membuat pengelola menjadi lengah.
Sadar bahwa mereka tidak mungkin jatuh, para pengelola klub2 sepakbola di seluruh dunia menjalankan klub secara sembarangan, penuh tahayul, dan tanpa pertimbangan matang. Ini terjadi di seluruh dunia, termasuk pada Persib. Ketika zaman perserikatan, kekuatan Persib berada pada primordialisme yang kental, sehingga pemilihan pemain dan pelatih begitu ketat untuk memenuhi kriteria yang diinginkan. Hasilnya, pemain2 yang tergabung merupakan pemain yang paling cocok, paling pas, walau mungkin bukan yang paling hebat secara individu. Sebagai permainan tim, kekuatan utama setiap klub sepakbola ada pada kesatuan dan kompatibilitas penghuni tim tersebut, alih2 kehebatan individu satu dua orang. Ini yang hilang dari Persib sejak menjadi klub berstatus profesional. Pihak pengelola terlalu terpaku pada hasil instan, sehingga melakukan banyak kecerobohan dalam pemilihan pemain dan pelatih. Banyak pembelian yang dilakukan secara impulsif, karena merasa sang pemain telah bermain baik, bahkan hebat pada musim2 sebelumnya. Pembelian gagal semacam Siswanto (kembali bersinar di SFC), Gonzales, Charis Yulianto, pada dasarnya merupakan pemain yang baik, namun tidak sesuai dengan kebutuhan klub dan permainan tim. Pada akhirnya, keahlian mereka tidak membawa dampak positif apapun, karena tidak sesuai dengan kebutuhan tim yang ada saat itu.
Pengelolaan dana dan kontrak pemain yang tidak cermat, pun membuat tim menjadi gampang dibongkar pasang, pelatih diganti2, dan berbagai aksi yang pada akhirnya menyebabkan instabilitas dalam operasional entitas Persib, termasuk instabilitas prestasi.
Di masal lalu, kesalahan2 semacam ini dapat dengan mudah tertutupi oleh kekuatan sosial yang begitu menekan agar Persib berprestasi (sama seperti kekuatan Barcelona, Manchester, Liverpool dan Milan untuk menyaingi, bahkan melawan Ibukota), demi kebanggaan dan identitas sosial penduduk kota secara umum, sehingga berdampak pada berhati2nya para pengelola mengurus klub nya agar dapat selalu berprestasi dan memenangkan hati pendukung. Dimasa kini, ketika antusiasme dan tekanan sosial tersebut secara umum telah berkurang bahkan menghilang, kelengahan2 itu menjadi tak terkendali dan merusak pengelolaan klub dari dalam.
Kebijakan semacam ini dapat dipahami, karena alasan diatas. Para pengelola Persib tidak akan menerima kerugian apapun. Seburuk2nya Persib dikelola, akan tetap ada orang yang menggemari dan “membeli merknya”, serugi2nya Persib, mereka tidak akan bisa bangkrut, karena akan selalu ada orang2 yang menjaga agar ia tetap berdiri.
Namun ini adalah kesalahan, tidak dapat dibenarkan dengan cara apapun. Dan ini merupakan faktor kedua yang membuat Persib berada pada kondisinya yang sekarang.
Lyon, dan Bagaimana Aulas Menjadi Pesulap Sepakbola
Dalam perhitungan statistik, untuk jangka panjang, sangat sulit menjadikan Persib sebagai klub besar yang mendominasi, baik secara nasional, maupun internasional. Kesempatan itu ada, namun sulit. Penyebabnya, adalah 2 hal yang dijelaskan diatas. Terutama penyebab awal yang berkaitan dengan sosial budaya, dan bahkan politis, yang menjadi faktor tak terkontrol oleh siapapun. Namun kemudian ada Olympique Lyon,d an Jean Michel-Aulas.
Lyon adalah sebuah kota kecil, dengan kebanggaan akan budaya dan intelektualitasnya. Sejak dahulu Lyon tidak perlu mencari2 kebanggaan dan identitas kotanya, selain dari yang sudah ada. Klub sepakbola yang ada dikota itu, Olympique Lyon (OL) bertahun2 menerima predikat diri sebagai klub “ecek2” yang tak pernah tercatat dalam peta persepakbolaan Perancis. Namun diawal tahun 2000-an datanglah Jean Michel-Aulas, sebagai pemimpin OL yang baru.
Aulas menyadari satu hal, OL tidak akan bisa menjadi besar untuk waktu yang lama dan dominan, namun dengan beberapa “intervensi”, OL bisa menjadi “anomali” yang cukup lama untuk bisa dinikmati dan dibanggakan, bahkan tercatat dalam sejarah dan peta persepakbolaan dunia. Dan itulah yang ia lakukan.
Aulas mengelola OL dengan sedemikain rupa, sehingga berhasil membawa klub ini dari “negeri antah berantah” menjadi sebuah fenomena sepakbola dengan menjuarai Liga Perancis sebanyak 7 kali berturut2. Apa rahasianya? Berikut ini beberapa yang berhasil diamati:
- Aulas menjadikan OL sebagai sebuah entitas bisnis sebenarnya, semua harus menguntungkan, dan segala macam target dan strategi bisnis yang dibutuhkan agar OL menghasilkan keuntungan harus dirancang dan dieksekusi. Mana kala kekuatan utama dari bisnis sepakbola adalah brand awareness dan image awareness, maka langkah2 peningkatan merk dan image OL harus dilakukan secara terperinci dan komprehensif. Termasuk didalamnya peningkatan brand image OL, yang dicapai lewat kemenangan dan menjuarai Liga, penjualan merchandise, image right, kontrak2 non sepakbola, produk2 non sepakbola, peningkatan bonafiditas infrastruktur, dan lain sebagainya, sebagai usaha untuk memperkuat brand awareness dan perluasan pasar dan loyalitasnya. Ketika profit tercapai, pengelolaan keuntungan harus dirancang dan dieksekusi secara ketat, demi keberlangsungan perusahaan, itulah mengapa OL jarang “nafsu” membeli pemain2 mahal setelah mendapat profit besar setiap musim, baik dari tiket, TV, merchandise, maupun dari bursa transfer. Setiap keputusan bisnis, harus dilakukan dalam kerangka pemikiran bisnis, image dan profit orientation pula.
- Secara spesifik OL menjadikan pemain sebagai aset bisnis belaka, alih2 memperlakukan mereka secara semtimental. Sebagai aset bisnis, pemain yang dibeli haruslah semurah mungkin, secocok mungkin dengan kebutuhan permainan dan keuangan tim, dan sepotensial mungkin untuk menjadi keuntungan di masa depan. Disitulah muncul nama2 seperti Essien, Edmilson, Juniho Pernambucane, Benzema, Cris, Fred, yang dapat dikatakan sebagai pemain “antah berantah” saat masuk OL, namun keluar sebagai “superstar” berharga mahal. Termasuk didalamnya, strategi2 pembuatan kontrak dan nilai transfer, agar selalu mendapat keuntungan maksimal dari aktifitas bursa transfer pemain. Namun tidak dilupakan, sebagai sebuah aset, mereka harus bekerja secara optimal, oleh karena itu, selama berada di OL, para pemain selalu mendapat perhatian lebih dan menyeluruh dari manajemen, demi menjamin kenyamanan mereka, agar dapat beraksi secara optimal di lapangan. OL terkenal sebaga rumah yang ramah bagi para pemain, sama seperti Milan dan Barcelona.
- Stabilitas adalah pilar dalam pengelolaan sebuah entitas komersil dengan orientasi profit. Dalam pada itu, OL menciptakan dan menerapkan secara konsisten “identitas” permainan lapangan mereka sendiri, sama seperti yang dilakukan oleh Barcelona, Ajax Amsterdam, Italia, Brazil dan Belanda. Dengan tujuan agar orang selalu ingat akan OL style ketika mereka melihat gaya permainan yang sama di lapangan (yang artinya image awareness yang kuat telah berhasil ditanamkan). Walhasil, peranan manajer-pelatih sebenarnya menjadi tidak signifikan, karena semua telah diatur dan dimatangkan pada level manajemen eksekutif, yang dalam hal ini dikuasai oleh Direktur Sepakbola mereka Bernard Lacombe. Pelatih-manajer hanya berfungsi sebagai operator, yang menjalankan mesin klub yang telah terlubrikasi dan terawat baik. Ia hanya perlu membaca manual, dan menjalankan manual itu dengan benar, maka mesin akan berjalan dengan baik dan benar. Inilah yang membuat OL bisa terus juara selama 7 musim berturut2, walau mengalami pergantian pelatih sebanyak 5 kali (namun Lacombe tetap berkuasa selama itu).
Tiga hal diatas menjadi kunci utama keberhasilan OL menguasai Liga Perancis 7 musim berturut2. Dan Persib pun bisa melakukan hal yang sama. Walau terjebak pada keniscayaan mediokritas akibat pergeseran pola sosial dan budaya pada masyarakat, setidaknya Persib bisa meniru langkah Lyon untuk “mengintervensi” hukum sosio-kultural, dan menciptakan anomali sesaat (7 tahun adalah waktu yang pendek dalam berabad2 usia sepakbola, namun tetap cukup panjang untuk menjadi kebanggan dan bahan bersombong ria dihadapan fans klub lain). Jika langkah Aulas bisa ditiru dan dilaksanakan oleh pengurus2 Persib, bukan tidak mungkin 10 tahun lagi Sule Sutisna yang jadi pelatih, namun Persib tetap juara untuk ke 7 kalinya secara berturut2.
Tabik.




